Terdapat4 foto dan informasi lainnya untuk tanah dengan cicilan di Sleman, area Tempel. Properti ini dijual dan dipasang oleh Romi Orange. Jalanjalan sendirian keliling kota ini, kenapa tidak?Hai perkenalkan nama Ainun, umur saya 20 tahun hobi saya jalan-jalan tentunya. Saya anaknya suka bergaul dan bertemu dengan orang baru bisa dibilng saya mudah berbaur dalam sebuah lingkungan tapi saya tau kok batasan-batasannya.Pada tulisan ini saya inigin menceritakan pengalaman saya saat CerpenJalan Jalan Ke Jogja. Oleh Ahmad Diposting pada 06/04/2021. Sebaiknya kita ke Malioboro lagi saja ucap Senna. Jam 2330 Baca Selengkapnya. Harga Jarik Jogja. Oleh Ahmad Diposting pada 31/03/2021. Batik Jogja Melakukan kunjungan singkat ke Daerah Istimewa Yogyakarta jadi Baca Selengkapnya. Lemari Kain Portable Jogja. ViralCerita Anak SD Dibully, RS Bethesda Ungkap Ada Kemiripan. id - Polsek Tamansari melakukan restorative justice (keadilan restoratif) kepada para pelaku dan korban perundungan atau bully yang terjadi di Jalan Kebon Jeruk 16, Tamansari Jakarta Barat. Trauma yang dialami ketika kecil tersebut bertahan hingga dewasa. DeskripsiProjek. Tol Bawen - Yogyakarta adalah salah satu jalan tol baru yang rencananya akan dibangun mulai tahun 2018 dan ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2020. Tol ini akan menyambungkan empat Kabupaten di Jawa Tengah dan DIY. Tiga Kabupaten di Jawa Tengah yaitu Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, sedangkan Kabupaten di DIY, yaitu Kabupaten Sleman. DibacaNormal 2 menit. Mahasiswa dan masyarakat mengadakan Perjalananke Jogja. 4. Pesanlah Homestay Selama Berlibur. 5. Catat Perlengkapan yang Diperlukan. 1. Buat Daftar Tempat Tujuan Wisata Kamu. Yogyakarta memang selalu menjadi kota yang mengesankan bagi wisatawan. Karakter orang-orangnya yang ramah, sederhana dan hangat bikin rindu untuk balik lagi ke Jogja. 93YmBw. Senang sekali kalau bermimpi Saat bangun menjadi nyata Pagi-pagi seseorang mengabari Kalau saya akan ke Jogja Bahagia sekali rasanya ketika atasan di kantor menyampaikan kalau saya menjadi salah satu perwakilan untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan di Yogyakarta. Kota yang sudah sejak lama saya impikan bisa bertandang ke sana. Kota yang sempat membuat saya bingung dengan pengejaan singkatannya, Yogya atau Jogja? Yang akhirnya saya mendapatkan jawaban jika kata Jogjalah yang dipilih karena mudah dilafalkan oleh semua oran termasuk orang asing. Dan ketika beliau menanyakan apakah saya bersedia, langsung saja saya mengangguk. Kapan lagi saya bisa ke Jogja? Terlepas ini adalah perjalanan dinas dan bukan untuk liburan, tetapi saya selalu berusaha menikmati setiap detik yang saya habiskan saat berada di kota baru yang saya kunjungi itu. Kendati jadwal pelatihan yang saya ikuti sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk menjelajahi kota Jogja, tapi itu sudah cukup untuk saya. Bisa melihat Jogja dari dekat sudah membuat saya senang. Mimpi yang Menjadi Nyata Baru beberapa hari sebelumnya saya berkomentar di sebuah blogpost milik Omduut tentang kisah perjalanannya selama di Yogyakarta, saya menuliskan kalau saya ingin sekali ke Jogja dan saya belum pernah sekalipun ke Provinsi yang dijuluki sebagai Kota Gudeg itu. Lalu, beberapa hari setelah komentar saya tersemat, Yang Maha Mendengar mengabulkan keinginan saya. Saya akhirnya datang ke Jogja. Rinai hujan menemaniku saat berangkat ke Jogja dari Nanggroe Aceh tercinta Sendiri saya berangkat dari Banda Aceh menuju Jakarta. Hujan begitu setiap menemani perjalanan saya ke Jogja. Ya, hujan telah turun di subuh yang gelap di Banda Aceh pun demikian saat transit di Jakarta, rinai hujan masih membasahi bumi. Dan ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, hujan belum juga reda. Alih-alih berhenti, air dari langit itu semakin lebat saja membasahi bumi. Dengan menggunakan payung yang disediakan pihak bandara, saya pun berjalan memasuki pintu masuk bandara. Ucapan selamat datang dalam bahasa Jawa menyambut setiap penumpang yang memasuki pintu tersebut. Iringan musik gamelan yang diputar lewat pengeras suara semakin meyakinkanku jika saya benar-benar telah tiba di Daerah Istimewa yang sangat terkenal dengan kekentalan adat istiadat dan kebudayaannya. Hujan tetap awet saat kusinggah sejenak di Jakarta Sambil menunggu jemputan, saya mencoba menjelajahi Bandara Adi Sucipto. Meskipun penerbangan di bandara ini lumayan padat, tapi menurutku ukuran bandara tidak seimbang dengan banyaknya pesawat yang mondar mandir. Selain itu, bandara ini juga kesannya masih kurang tertata rapi. Ketika saya menuju pintu keluar, seperti biasa, para supir taksi berbondong-bondong menawarkan jasanya kepada saya dan penumpang lainnya. Namun, saya terpaksa menolak mereka karena telah ada minibus yang menunggu saya dan peserta pelatihan lainnya dari seluruh Indonesia. Hujan begitu awet di Yogyakarta Hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda. Padahal, saya sudah berencana untuk jalan-jalan sebentar sebelum acara dimulai. Berbagai tempat wisata di Jogja yang bisa dikunjungi dalam waktu singkat dan dekat dengan penginapan sudah tercatat dalam list saya. Pun demikian dengan rencana saya untuk bertemu blogger-blogger Jogja seperti kak Indah Juli, Mbak Rian, dan Mbak Irul. Baca juga Tempat Wisata Belanja di Joga yang Ingin Saya Kunjungi Langit Jogja terlihat mendung dan setelahnya hujan kembali mengguyur dengan deras Dalam perjalanan menuju hotel, saya menghubungi Kak Indah dan menyampaikan kalau saya akan terlambat tiba di hotel, jauh meleset dari jadwal yang sebelumnya saya utarakan padanya. Ternyat Kak Indah pun demikian, beliau terjebak macet karena hujan semakin deras. Setelah 20 menit perjalanan dengan menggunakan minibus, saya pun tiba di tempat saya menginap yaitu Hotel Eastparc Yogyakarta yang berlokasi di Jln. Laksda Adisucipto Km. 6,5 Seturan, Depok, Sleman, Yogyakarta. Ketika memasuki hotel mata saya dimanjakan dengan parc atau park alias taman dan dipadukan dengan unsur-unsur Jawa. Beragam lukisan dengan harga yang membuat mata terbelalak dipajang pada setiap sudut hotel ini. Dan setelah meletakkan koper di kamar, saya pun langsung menuju lobi hotel dan menunggu teman-teman blogger datang. Meet Up dengan Blogger Jogja Sudah menjadi kebiasaan para blogger untuk meet up, kopi darat dengan blogger lokal ketika bertandang ke suatu daerah. Konon lagi karena kita bergabung dalam beberapa komunitas blogger yang sama, kehebohan langsung tercipta saat bersua. Jadi, jauh-jauh hari sebelum berangkat, saya sudah mengabari Kak Indah kalau saya akan ke Jogja. Ada cerita lucu sebenarnya antara saya dan kak Indah Juli atau yang lebih dikenal dengan Makpuh di Komunitas Emak-emak Blogger KEB, pemilik blog Ternyata, tahun 2010, saat roadshow Pesta Blogger ke Banda Aceh, kami pernah dipertemukan dalam satu tim, lho. Saya menjadi panitia untuk chapter Aceh saat itu. Namun, kami tidak saling mengenal atau bertegur sapa kala itu. Mungkin karena sama-sama sibuk dengan tugas masing-masing. Entahlah, pokoknya saya tidak tahu kalau ada Kak Indah yang menjadi perwakilan panitia Pesta Blogger dari pusat. Beberapa tahun kemudian, ketika Facebook mengingatkanku akan foto acara Pesta Blogger 2010 itu, saya melihat Kak Indah berdiri tepat di belakangku. Walhasil, kami sama-sama tertawa dan tidak menyangka kalau kami pernah bertemu. Meet up bersama emak-emak blogger Jogja sumber foto Rian Mbak Rian Anastasia yang sering dijuluki barbie dan pemilik blog yang pertama sekali hadir karena rumahnya tidak jauh dari hotel tempat saya menginap, lalu disusul oleh Mbak Irul, dan terakhir Kak Indah karena rumahnya paling jauh. Kami pun memulai obrolan di lobi, saling bercerita dan tidak lupa berfoto bersama. Pertemuan kami belum usai, karena belum pernah ke Jogja, saya meminta mereka mengajak saya ke tempat makan recommended di Jogja. Rian lalu mengusulkan untuk mencicipi Bakmi Jawa Mbah Gito yang terletak di Jalan Nyi Ageng Nis 9, Peleman-Rejowinangun Sleman. Hm, makan mie pas lagi hujan gini pasti seru. Setelah memesan transportasi mobil online, kami pun menuju ke Bakmi Jawa Mbah Gito. Lokasinya tidak jauh dari hotel dan sangat dekat dengan rumah Rian. Interior warung Bakmi Mbah Gito ini seperti rumah pohon, sangat unik menurutku. Bersama pegawai Bakmi Jawa Mbah Gito, Yogyakarta Foto milik Mbak Rian Setelah kenyang menikmati lezatnya Bakmi Jawa, hujan belum juga reda. Padahal saya ingin sekali melihat keindahan Kota Jogja pada malam hari. Rian dan Kak Juli pun akhirnya mengajak saya berbelanja oleh-oleh Jogja di Mirota Batik sedangkan Mbak Irul pamit lebih dahulu karena harus menjemput anaknya yang sedang berlatih bela diri di sebuah gedung olah raga. Hujan tak kunjung berhenti selama saya di Jogja. Bahkan ada beberapa daerah yang mengalami banjir. Syukurnya, di hari terakhir saya di Kota Wisata ini, matahari mulai menampakkan senyumannya walau tidak begitu cerah. Jadi, sebelum beranjak pulang, saya sempat jalan-jalan ke Candi Prambanan. Cerita tentang perjalanan saya ke candi ini ada di tulisan berikutnya, ya 🙂 Karena belum sempat menjelajah Yogyakarta pada ketadanganku kali ini, keinginan untuk kembali ke kota ini semakin beralasan. Ya, Jogja, aku pasti kembali.[] Liza Fathia TOURING JOGJA Suatu malam nan dingin pukul malam tepatnya pada Tanggal 12 Mei 2012. SMPN 1 Karas mengadakan wisata ke jogjakarta yang diikuti siswa kelas 2 beserta guru-guru pendamping. Sebelum keberangkatan saya menulis barang yang saya perlukan di selembar kertas dan sekiranya daftar barang tersebut sudah terpenuhi semua tentang kebutuhan saya nantinya, saya mulai mempersiapkan semua barang bawa’an yang berguna bagi saya ke dalam tas ransel sesuai daftar barang, dan setelah semuanya selesai, jam saya merebahkan badan saya untuk memulihkan energi sebelum pemberangkatan ke jogja dan berharap bisa bangun tepat waktu. Sebelum memejamkan mata tidak lupa saya membaca do’a sebelum tidur agar yang Maha kuasa selalu menjagaku ketika sedang terlelap dan tak lama kemudian saya tertidur pulas. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam sudah berlalu tiba saatnya saya untuk bangun dari tidur, meskipun hanya beberapa jam saja saya tertidur tapi saya tetap merasa mempunyai semangat dan energi baru untuk bangun, sebelum saya bangun dari posisi tidur saya, saya berdoa sejenak dan mengangkat badan saya, setelah itu bergegas saya menuju kamar mandi untuk mandi, seusai mandi nenek menyuruh saya untuk makan pagi dan minum obat anti mabuk karena nenek tau kalau saya mau bepergian jauh. sesudah benar-benar rapi dan siap saya langsung berpamitan dengan keluarga yang ada di rumah. Saya berjalan menuju bagasi dan mengambil motor lalu berangkat, saya tidak langsung menuju sekolahan karena ada teman yang mau nebeng untuk berngkat kesekolah, dengan senang hati saya menuju rumah teman saya itu. Setelah tiba di rumah teman,saya masih menunggu beberapa menit dan setelah teman saya selesai kami bergegas untuk berangkat dengan kecepatan tinggi karena waktu untuk keberangkatan bus sebentar lagi. Sesampainya di parkiran kami langsung berlari menuju sekolah dan untungnya Bus pariwisata masih ada di tempat karena tadi waktunya memang sangatlah mepet. Perasaan saya yang tadinya kacau balau langsung menjadi tenang. Kemudian saya dengan beberapa teman saya mendapatkan tugas untuk membeli 2 kerdus minuman untuk teman-teman yang ada di bus nanti. Kebetulan kelas saya kebagian bus pertama. Tidak lama kemudian setelah saya, teman-teman beserta guru pemimbing memasuki bus pariwisata kami berdo’a bersama dalam bus demi keselamatan bersama. Dengan perasaan bahagia yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata bus pun mulai berjalan, kami pun bersorak gembira. Dalam hati “Jogja I’m Coming” ditengah perjalanan buspun berhenti karena memang azdan subuh sudah berkumandang dan kami pun bergegas turun dari bus untuk melaksanakan melaksanakan sholat subuh. Sesudah selesai sholat bus mulai melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian rombongan bus kami berhenti di rumah makan Taman sari untuk sarapan, selesai makan bus langsung melanjutkan perjalanan. Di perjalanan rombongan bus kami melewati Candi Prambanan, meskipun prambanan adalah tempat wisata tapi rombongan bus kami tidak berhenti untuk berkunjung dikarenakan prambanan memang bukan tujuan pariwisita kami. Meskipun demikian kami tetap senang bisa melewati prambanan yang indah dan penuh dengan sejarah. Di perjalanan rombongan bus kami melewati Lapangan Udara Adi Sucipto, Jogja kembali, Musium dirgantara dan Candi mendut. Tak lama kemudian bus pun sampai pada tujuan wisata pertama kita yaitu Candi borobudur. Kami beserta rombongan turun dari bus dan kami berjalan menuju Candi borobudur. Di sela-sela perjalanan kami, pemandu menjelaskan tentang asal-usul candi borobudur, bahwasannya candi borobudur terletak di desa borobudur , kecamatan borobudur, kabupaten magelang, propinsi jawa tengah, ­-+ 41 km dari yogyakarta. -+ 80 km dari kota semarang ibu kota propinsi jawa tengah. Candi borobudur didirikan diatas sebuah bukit pada ketingian 265,40 km di atas permukaan laut atau berada -+ 15 m di atas daratan di sekitarnya. Candi borobudur merupakan salah satu keajaiban dunia yang sampai saat ini menjadi pusat perhatian masyarakat dunia baik dari segi kepariwisataan, arkeologi dan pengetahuan Langkah demi langkah berlalu sampailah kami di depan tangga borobudur, tak lupa kami berfoto-foto sambil mendengarkan pemandu menceritakan tentang sejarah borobudur yaitu arsitektur bangunan candi borobudur didirikan pada sebuah bukit seluas -+ 7,8 ha pada ketinggian m di atas bukit sekitar nya. Untuk menyesuaikan dengan profil candi yang akan di bangun, bukit diurug dengan ketebalan bervariasi antara 0,5 m – 8,50 ukuran candi yang di urug dari diding terluar adalah 121,70 m x 121,40 m dengan tinggi bangunan yang masih tersisa 35,40 m dari tanah halaman dan denah candi menyerupai bujur sangkar dengan 36 sudut pada diding teras 1, 2 & 3 tersusun dari batu andesit dengan sistem dry masonry tanpa perekat diperkirakan mencapai m3 atau blok batu. Untuk memperkuat kontruksi dipergunakan sambungan batu tipe ekor burung ke arah horisontal, sedang untuk arah vertikal dengan sistem getakan dan pada masing-masing tingkat dan setiap penjuru mata angin terdapat pintu gerbang atau utama ada di sebelah timur. Bentuk arsitektur candi borobudur yang sekarang, diperkirakan mengalami perubahan konsep dasar. Pentahapan yang diperkirakan dumaracay diakibatkan candi mengalami beberapa kali kelongsoran sehingga harus mengulang beberapa kali perkerjaan pembangunan. Dari aspek seni bangunan ada 2 bentuk seni arsitektur yang dipadukan yaitu 1. Hindu Jawa Kuno Yaitu adanya punden berundak, relief maupun budha yang sedang bermeditasi. 2. india Yaitu adanya stupa, bhuda dan lantai yang bundar. Candi borobudur tidak saja menunjukan kemegahan arsitekturnya tetapi juga mempunyai relief pahatan atau ukiran yang sangat menarik. Relief cerita pada candi borobudur menggamarkan beberapa cerita yaitu 1. Karma Wibangga, terdiri dari 160 panel, dipahatkan pada kaki tertutup. 2. Lalita Wistara, terdiri dari 120 panel,di pahatkan pada diding lorong 1 bagian atas. 3. Jakata dan Awadana, terdiri dari 720 panel, dipahatkan pada lorong 1 bagian bawah,balustrade lorong 1 atas dan bawah, dan balustrade ll. 4. Gandawyuda, terdiri 460 panel, dipahatkan pada diding lorong ll dan lll, balustrade lll dan IV serta Bhadraceri diding lorong IV. Itulah beberapa penjelasan dari bapak pemandu. Sinar mataharipun terasa sangat panas. Meskipun begitu tidak menyurutkan rasa gembira kami untuk menikmati candi borobudur, kita berjalan turun dan keluar dari candi, terlihat ada beberapa pohon yang berdiri, tujuan kamipun tertuju kepada salah satu pohon itu untuk duduk bersantai sejenak melepas rasa lelah karena sudah berkeliling candi. Sejuk, damai itu yang kami rasa. Kamipun memutuskan untuk menyudahi petualangan kami mengelilingi candi borobudur, meskipun masih terlihat teman-teman kami yang asyik menikmati candi. Sesampainya di gerbang keluar kami disuguhi aneka oleh-oleh, dimulai dari makanan, accesories, pakaian dan lain sebagainya yang tentunya adalah khas jogja. Tapi pada saat itu kami tidak membeli apa-apa, memang kami pada saat itu belum ada hasrat untuk membeli dikarenakan itu baru tempat pertama yang kami tuju. Disaat kita melewati para penjual teriakan para penjual menyapa kami yang menawarkan dagangannya. Tapi itu tidak menyurutkan langkah kami untuk tetap melangkahkan kaki kami. Sesampainya di parkiran bus masih banyak teman-teman yang belum berada di tempat, bahkan belum ada guru pendamping yang datang, mungkin memang kita terlalu cepat meninggalkaan candi. Akhirnya, kami memutuskan menunggu teman-teman beserta guru di dalam bus. Tidak lama kemudian satu persatu teman-teman kami datang begitupun dengan guru-guru kami. Hingga saatnya bus sudah terlihat penuh. Ketika pemberangkatan akan dimulai, gurupun mengabsen siswa satu persatu, dan ternyata masih ada satu siswa yang belum berada di bus, yaitu seorang teman perempuan dari kelas 8A, akhirnyapun kami menunggu sejenak dan beberapa menit berlalu akhirnya gadis itu datang juga. Bus pun mulai berjalan satu persatu, saya tengokan kepala saya ke kiri ke kanan ke depan dan ke belakang, terlihat teman-teman berwajah capek, mungkin karena perjalanan yang jauh yang sudah kami tempuh ketika menaiki candi borobudur. Di tengah perjalananpun guru pemandu mulai bercerita tentang sejarah jogjakarta dan apa yang kami lihat ketika di jalan, itu berfungsi supaya kami bisa memahami hal-hal yang kami lihat tidak hanya sekedar tau wujudnya jogja yang seperti ini, ini tentu sangat bagus untuk pengetahuan kami yang pada dasarnya kami yang memang bukan berasal dari jogja. Disana terlihat Kraton jogjakarta, Taman pintar, Museum merapi. Buspun berhenti di sebuah tempat oleh-oleh yaitu Pasar salak. setelah sejenak berhenti buspun melanjutkan perjalanannya, tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Parangtritis. Sungguh kami sudah tak sabar ingin cepat sampai di pantai itu, karena hawa pantai yang indah, hamparan pasir yang luas beserta air laut yang berlimpah sudah membayangi kami untuk menceburkan badan kami ke pantai itu. Berenang, berenang dan berenang. Setelah sampai kamipun dibuat kagum dengan keindahan pantai tersebut, kami pun bersegera untuk berganti pakaian karena kembali pada niat awal kami yang ingin segera menceburkan diri ke pantai itu. Di perjalanan menuju pantai kami merasakan semilir angin yang membuat suasana semakin nyaman, pasir yang berhamparan membuat kaki kami berat dalam berjalan tapi tetap semangat yang kami rasakan. Setelah sesampainya di pantai kami pun langsung menceburkan badan kami, basahlah baju yang kami pakai. Kami bermain, bersenda gurau, kadang-kadang juga berfoto. Di tengah-tengah keasyikan kami ada seseorang yang tiba-tiba menarik tangan saya, saya melihat ternyata Bapak Guru Wawan Rumanto, dalam fikir saya entah apa kesalahan yang saya buat sehingga membuat Pak Guru akan memarahi saya, hatipun bertanya-tanya, salah apa ya saya? Tidak lama kemudian perasaan legapun datang, ternyata kami mau berfoto. Perasaan was-was pun hilang diterbangkan oleh angin yang berhembus. Setelah itu saya kembali bersama teman-teman melanjutkan aktifitas kami yaitu bermain air. Tidak terasa hari sudah mulai sore yang mengharuskan kami untuk menyudahi petualangan kami, meskipun hati terasa berat tapi kita harus tetap pergi, dalam hati ada rasa syukur yang terpenting kami sudah bisa menikmati keindahan Pantai parangtritis. Kamipun menuju ke bus kami dan mengambil pakaian ganti dan menuju ke penyewaan kamar mandi untuk membersihkan badan kami yang penuh dengan air laut yang lengket. Setelah semuanya bersih kami menuju bus kami masing-masing. Ketika bus mulai menyalakan mesin persiapan berjalan, ternyata ada satu bus yang tidak menyala dan membuat guru berfikir sejenak untuk apa hal selanjutnya yang akan diperbuat. Akhirnyapun penumpang bus yang rusak dipindahkan ke setiap bus yang masih berfungsi. Pada saat itu saya kebetulan duduk di tempat depan, dan karena ada penghuni baru yang datang ke bus kami, guru menyuruh kami yang penghuni lama untuk pindah kebelakang, karena tempat duduk depan akan ditempati penghuni baru, akhirnyapun kami pindah ke belakang. Setelah semua selesai buspun berjalan dan buspun berhenti di rumah makan firdaus karena makan malam sudah tiba. Ketika kami menginjakan kaki kami di rumah makan tersebut terdengar alunan musik yang indah menemani makan malam kami, kami pun mulai mengambil santapan malam itu, nikmat sekali rasanya, mungkin karena kami merasa lapar sudah seharian berjalan-jalan. Setelah makan usai kami pun melanjutkan perjalan, kali ini tempat duduk kami terasa longgar karena penghuni baru sudah kembali ke bus lamanya, dan saya yang tadinya duduk dibelakang sudah kembali duduk kedepan. Di sela perjalan pemandu mengumumkan sebuah pengumuman penting yang memberitahukan bahwasannya tujuan kita selanjutnya yaitu malioboro akan dibatalkan karena di malioboro diadakan konser oleh band indonesia yaitu “Zilvilia” sehingga menyebabkan parkiran bus ditutup. Rasa kecewa pasti ada, tapi ya kami tidak bisa berbuat apa-apa, kamipun memutuskan untuk menerima dengan lapang dada. Karena Malioboro adalah tujuan terahir kami, maka usailah petualangan kami, buspun membawa kami pulang ke asal kami. Di perjalanan bus pun mampir disebuah pusat oleh-oleh khas jogjakarta yaitu Devaja. Setelah kami puas dengan oleh-oleh yang kami beli, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Di dalam bus setelah beberapa menit berlalu, akhirnyapun kami mulai tertidur satu persatu, karena memang kami sangat lelah. Tidak tersadar kami, akhirnyapun kami dibangunkan dan ternyata kami sudah sampai di sekolahan kami. Kami pun bergegas mengambil masing-masing barang kami dan keluar dari bus satu persatu. Sayapun langsung menuju parkiran karena memang kendaraan saya berada disana, sayapun tidak langsung mengambil motor saya, saya duduk sebentar dengan teman saya yang berboncengan dengan saya ketika berangkat ke sekolah. Kami melihat teman-teman kami yang dijemput keluarga mereka yang akan pulang. Tidak lama kemudian kamipun mengambil motor dan pulang, tidak lupa saya mengantarkan teman saya dahulu kerumahnya sebelum pulang ke rumah saya. Sesampainya di rumah, saya memasukkan motor saya ke dalam bagasi, dan menuju kamar saya, karena capek, saya langsung membaringkan badan saya ke tempat tidur dan dengan perasaan senang saya terbayang-bayang pengalaman saya ketika di jogja, senang yang terasa, dan tidak lupa berdo’a sejenak. Sayapun tertidur dengan lelapnya.

cerpen jalan jalan ke jogja